SAJADAH BIRUKU
Malam itu, walau langit telah berubah menjadi gelap, dan
hujan yang enggan pergi. Duduklah aku pada bangku kosong, tepatnya diseberang
jalan sana di depan rumahku. Dingin udara malam tak pernah aku hiraukan, bahkan
deras air hujan tak pernah membuatku gagal bersandar dibangku ini. Setiap malam
aku selalu berdoa ditemani bintang yang mulai redup terbungkus awan. Suasana
inilah yang selalu aku inginkan, badai sekalipun tak akan membuatku merenungi beberapa hal yang ku anggap kecil, tetapi terus
mengitari ingatanku, entah bagaimana caranya itu. Apalagi
hal kecil itu tentang asa yang selama ini aku gantungkan, tentang Andi
kekasihku. Ketika peristiwa baru mulai terukir. Ketika kebutuhan tak kuat hanya
sekedar dalam impian. Saat itulah ketika peristiwa ini bermula kemudian menjadi
akhir dari sebuah perkenalan
.
Sesaat setelah aku pandangi bulan yang membiarkan diri
terhalang kabut hitam, teringatlah aku pada dua bulan kisah indah itu berjalan
begitu cepat. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu pergi ke taman di
belakang kampus, begitu damai rasanya melihat hamparan rumput dan bunga yang
berwarna- warni. Seakan membuatku terlena akan keindahan itu. Tak jarang
inspirasi timbul dalam suasana damai disana. Siang itu aku sedang duduk, tiba-
tiba ada seorang lelaki tampan yang selalu tersenyum dari balik pohon. Hingga
akhirnya dia duduk disebelahku tanpa aku tahu hentakkan kakinya sedikitpun.
Dialah Andi, pertemuan kami siang itu berujung pada sebuah perasaan yang tak
pernah aku dapatkan sebelumnya. Dia anak seorang dosen yang rumahnya tak jauh
dari taman kampus.
Entah begitu
cepat Andi masuk dalam fikiran dan ruang kosong yang selama ini menanti. Kebahagianku bertambah saat tahu
bahwa Andi menyimpan perasaan yang sama denganku. Seminggu setelah hubunganku
berjalan dengen Andi, temanku Tyas, dia sahabat yang selalu menemaniku setiap
hari. Tetapi tak seperti biasa dia mulai menjauhiku, bahkan dia memilih untuk
bermain dan membaca buku di perpustakaan daripada ikut denganku bertemu Andi. Dikelas
pun dia tak lagi duduk sebangku denganku, semua teman- temanku menjauh.
Entahlah apa yang mereka fikirkan. Satu- satunya yang menjadi pendengarku
adalah Andi. Keramaian semakin
membuat kacau pikiranku, kusandarkan tubuhku pada
sebuah pohon yang besar dan tinggi menjulang mencakar langit yang mendung itu.
Kebesarannya inilah yang membuatku nyaman untuk bersembunyi dari segala macam
perkara kehidupan yang melilitku, ketika aku merasakan kebahagian bersama Andi
semua orang yang ada dalam hidupku bertingkah aneh. Tak akan ada yang tahu dan
mengenaliku kecuali daun- daun kering yang berjatuhan tanpa diminta. Masalah ini sudah
cukup menjadikanku menggigil untuk pulang. Pandangan orang seperti pedang tajam
dan berkilat yang siap menjerat fikiranku. Apalagi banyak orang berbusana putih
yang datang kerumah, ibuku yang meminta mereka. Apa yang sudah terjadi pada
seisi rumah ini. Dalam benakku hanya ada jalan yang terbentang membatasi
kebebasan untuk berlalu kemanapun aku suka.
Mungkin ayah dan
ibu berfikir anaknya sudah melampaui batas kewajaran karena sejak bersama Andi
selalu aku habiskan waktuku bersamanya. Walau aku tidak bisa menyalahkan, wajar
saja, aku pun akan berlaku sama jika aku adalah ayah ibu. Aku, putri cantiknya
yang telah beranjak dewasa, buktinya telah banyak bunga mawar kering berbulan-
bulan di dalam kamar. Sebenarnya, masa kecilku lebih bahagia daripada dewasa
ini, Banyak hal yang aku lakukan bersama mereka. Setiap malam Andi meneleponku
dengan suaranya yang parau selalu membuatku tak ingin melewatkan itu. Pernah
sesekali ibu melihatku dengan aneh, karena mungkin anaknya terlalu sibuk dengan
urusan cinta. Apalagi ayah yang tak mengizinkan aku keluar bersama Andi, tapi
aku sering melawan karena tak mau melukai hati Andi yang sudah menunggu di
luar. Setiap sore kami selalu habiskan waktu untuk duduk bersama pada bangku,
tepatnya diseberang jalan di depan rumahku. Saat itu angin begitu kencang dan
Andi memberikan sebuah sajadah birunya padaku. Sajadah itu berbeda ada bekas
noda yang rasanya susah dihapus, mungkin Andi tak sempat mencuci sajadah
birunya ini. Kusimpan baik- baik sajadah itu, bahkan aku selalu menggunakannya
setiap waktu sholat. Andi benar- benar membuatku menjadi wanita yang sempurna.
Meradang harapan yang selama ini aku punyai. Sejak kecil
aku telah mengimpikan seorang pangeran yang tampan, dan aku pikir dewasa ini
Andi lah lelaki itu. Permasalahannya ayah ibuku tak suka dengan Andi. Semua itu
terlihat saat aku mencoba membawa Andi kerumah dan memperkenalkannya kepada
ayah dan ibu. Mata ibu berkaca dan keduanya masuk kamar tanpa sempat berjabat
tangan dengan Andi. Sekuat tenaga aku menghibur hati Andi, tetapi dengan sikap
orangtuaku Andi hanya tersenyum. Andi benar- benar tak memasukkan dalam hati,
meski aku sedikit jengkel dengan orangtuaku. Tapi Andi tak pernah marah
kepadaku atas apa yang mereka lakukan. Setelah kejadian itu aku mendesak Andi
untuk memperkenalkanku dengan orangtuanya. Tetapi ketika kami berjalan menuju
rumahnya, aku berhenti karena banyak sekali orang dirumah besar yang sedikit tua
itu. aku urungkan niatku karena aku fikir ada acara dirumah itu. Apa yang ada
dipikiran mereka jika Andi pulang membawa seorang wanita. Karena cuaca mendung,
kami berpisah di seberang jalan itu. Sampainya aku dirumah tak lupa aku tulis
hal yang ku anggap menarik dalam dairyku.
Seminggu setelah kejadian itu Andi menghilang bagai
terhampas dari bumi, dia tak lagi meneleponku. Membuat pikiranku kacau.
Hebatnya lagi dia tak pernah lagi datang menemuiku di taman belakang kampus.
Ataukah dia lupa bahwa kisah kita baru diukir. Mungkin dia sakit, atau sedang
pergi berlibur ke luar negeri bersama keluarganya. Pikiran itu selalu membuatku
bersedih dan mengurung diri dalam kamar. Ayah dan ibu begitu khawatir dengan
keadaanku, bahkan akhir- akhir ini aku sering mendengar ada suara Tyas dari
balik pintu kamar. Tapi aku tak pernah hiraukan, pikiran hanya tertuju pada
Andi kekasihku. Tiga hari di dalam kamar membuatku penat dan berantakan,
keluarlah aku dari kamar. Wajah senang dari ayah ibu dan teman- temanku seakan
membuat hati ini tenang. Sepertinya mereka menunggu aku membuka pintu dari tiga
hari yang lalu semenjak aku mengurung diri. Aku ceritakan pada semua alasanku
berlaku demikian. Tiba- tiba ayah menarik tanganku dan membawaku ke rumah Andi.
Berharap aku bisa menemukan jawaban dari kegundahan hati yang selama ini aku
rasakan.
Sesampainya dirumah Andi seorang pembantu keluar dan
memanggil tuan serta nyonyanya. Masuklah
aku bersama ayah ibu juga Tyas ke dalam rumah yang klasik dan penuh dengan
motif bunga, aku pandangi sekeliling rumah banyak sekali pigora yang berisi
foto kekasihku yang amat aku rindukan. Setengah terkejut aku melihat mama dan
papa Andi yang turun dari tangga, dan tersenyum manis padaku dan semua.
Papa Andi :
apakah kalian teman Andi?
Aku : perkenalkan om saya Risma, ini orangtua
dan sahabat saya, saya kekasih Andi.
( Seperti terkena petir raut muka orangtua itu berubah
menjadi suram)
Papa Andi :
Senang sekali bisa bertemu kamu nak, sebelum Andi bisa memperkenalkanmu kepada kami, apakah kamu wanita yang sering duduk dan menulis di belakang taman kampus?
Aku : Iya om, saya suka sekali menulis disana.
Bahkan Andi sering menemani
saya. Tapi seminggu ini saya tidak pernah melihat Andi
lagi, dia tak pernah menelepon lagi. Apakah Andi sakit om?
Papa Andi :
kapan nak terakhir bertemu dengan Andi ?
Aku :
dua minggu yang lalu om, kami berjumpa dan menghabiskan waktu bersama, tetapi minggu pertama
setelah kami berpisah
diseberang jalan depan rumah ini Andi tak pernah ada kabar lagi. Saya selalu
menantikannya setiap saat. Andi baik- baik saja kan om?
Papa Andi :
begini nak, genap dua minggu kami kehilangan sosok putra kebanggan
kami, dia meninggal karena kecelakaan ketika akan
berangkat menuju masjid untuk sholat. Kejadiannya begitu cepat. Sampai Andi tak tertolong lagi. Dia sempat
bercerita akan menemui gadis cantik yang dia sukai yang
selalu duduk di belakang kampus. Namun Tuhan berkehendak
lain. Gadis itu adalah
kamu nak…
Seketika airmataku begitu deras mengalir dan tak terasa
badanku jatuh begitu saja.
Setelah dua jam lebih aku tak sadar diri, aku baru
terbangun dan disampingku sudah ada ayah ibu yang memelukku begitu hangat.
Airmata mereka begitu deras, aku hanya terdiam. Dua minggu yang lalu bukannya
awal perjumpaanku dengannya, jika berita ini benar, arwah Andi yang selama ini
bersamaku. Dan kejadian seminggu yang lalu ketika aku lihat banyak sekali orang
di rumah Andi yang kukira acara keluarga dan menjadi perpisahan diantara kami,
adalah hari dimana genap tujuh hari andi meninggal. Wajar saja semua orang
berubah, pasti mereka menganggapku sudah gila, ketika Tyas yang tiba- tiba
menjauhiku, ayah dan ibu yang tiba- tiba pergi dan hanya bisa menangis ketika
aku mencoba memperkenalkan Andi kepada mereka. Sore itu kami pergi ke makam
Andi disanalah aku bersimpuh antara percaya atau tidak. Sesampainya di rumah
aku berlari ke dalam kamar, ku ambil sajadah biru pemberian kekasihku itu. Dan
melihat noda itu aku bersimpuh dan menangis sekuat- kuatnya dan mencoba
mengingat ketika Andi memberikan sajadah itu untukku. “Oh sayang, jadi ini
sajadah yang engkau bawa ketika hendak menuju masjid dan mobil kencang itu
membuatmu menutupkan mata sebelum bisa menemuiku.. noda yang dulu pernah aku
cuci adalah berkas darahmu…kenapa ini semua terjadi Tuhan?. Tenanglah di surga
sayang, akan aku kenakan sajadah ini dalam setiap ibadah dan doaku. Selamat
jalan sayang…” Kataku dengan suara merintih dan airmata itu semakin deras.
Andi sudah tiada, namun kenangan bersamanya adalah hal
indah yang tak akan terlupa. Bahkan ketika aku harus bertemu dan menikah dengan
Andi yang lainnya nanti.