Translate

Senin, 27 Februari 2017

Air mata, mata air



Dari Mata Balon


Karya : Mega Windayana
Marsya Aditya Pratama, nama cantik itu diberikan kakekku sewaktu masih kecil dulu. Sejak kecil hingga belia ini aku tak suka menggunakan banyak aksen pada wajah. Seperti hari ini, meski rinai hujan begitu lembut, seharusnya anak sepantaranku senang berdandan dan berlama- lama di depan kaca. Tapi aku tidak. Lebih suka duduk di beranda rumah. Terlihat di ujung jalan dekat rumah terlihat dua orang anak yang sedang berjalan menuju rumahnya. Sepertinya mereka kebingungan kalau- kalau hujan lebat datang, dan mereka kembali untuk mengambil payung.
Tak ada satu tanaman yang tak basah oleh air. Bunga yang tadi layu, serempak tersipu malu dan merekah. Angin berhembus pelan seakan membungkus cerita untuk meraih pagi yang cerah. Tak lama, hujan berhenti. Sejam setelah itu suara gemuruh yang terasa mencekik menggelegar terdengar begitu sontak. Disertai angin kencang hujan turun berlomba- lomba. Nampak seorang kakek tua mengayuh becaknya dengan sangat kencang karena takut terjebak hujan. Tiba- tiba ada seorang anak kecil lari di depan rumah dan ditangannya membawa balon ungu. Sontak aku berlari ke dalam rumah. Dan kabur ke dalam kamar dan menguncinya rapat- rapat.
  Entah apa yang membuatku begitu ketakutan saat melihat balon. Padahal setiap acara bahagia, simbol ceria dan suka cita itu identik dengan nuansa dan balon dimana- mana. Rasanya ada yang aneh saat melihat benda mati itu. Apalagi jika benda itu terbang. Rasanya hati ini terharu, gemetar, dan pikiranku menyibak pada hal- hal yang tak pasti. Seperti memasuki ruang kosong, yang gelap, hitam, jauh dan akhirnya aku terjepit di dalamnya.
            Melati adikku yang baru duduk kelas dua SD malah terlihat sibuk menyisir rambutnya yang masih basah di dekat jendela kamar. Walau jarak umur kita jauh terkadang aku merasa geram saat dia mengejekku apalagi menyodorkan balon. Maklum di rumah hanya berdua dengan Melati, ayah dan ibunya sama- sama sibuk mengurus usaha di Toko. Sudah dua tahun ini, toko ayah berkembang pesat dan membuat kesibukan yang menjadikan urusan keluarga menjadi nomer sekian. Tak hanya itu ayahnya memiliki beberapa rumah makan, sementara ibunya membuka usaha kue tradisional.
 Pernah sesekali mereka bercanda saat aku ualng tahun, Aku bingung, bagaimana Melati keluar bersama teman- temannya saat perayaan ulang tahun yang digelar ayah dirumah. Tak lama, setelah pemotongan kue. Tiba- tiba dari dalam rumah ada segerombolan anak kecil membawa balon, dan itu adikku.  Seperti petir yang menyambar. Aku lari termenung duduk. Dan semua orang menatapku. Semakin lama aku termenung. Dan tak terasa airmataku begitu deras mengurai kecemasan dan kegelisahan. Suasana menjadi haru dan ayah memarahi Melati akibat ulahnya.
Setelah kejadian itu, selama seminggu aku mengurung diri. Merasa malu sekali, dan Melati tak berani menatapku sedikitpun. Tapi melihat dan mendengar pengakuan ayah, bahwa Melati hanya ingin memberikan kejutan dan menghilangkan phobiaku terhadap balon. Tapi yang terjadi justru di luar pikiranku. Semenjak itu, seua yang berbau balon dicoba disingkirkan oleh ayah dan ibu.
Yang jelas jika melihat balon ada sedikit rasa kegundahan, ketakutan, dan kecemasan yang mendalam bagiku.
Sekian........



Tidak ada komentar:

Posting Komentar