Laman

Senin, 27 Februari 2017

Sajadahku, rindu mengalir



SAJADAH BIRUKU


Malam itu, walau langit telah berubah menjadi gelap, dan hujan yang enggan pergi. Duduklah aku pada bangku kosong, tepatnya diseberang jalan sana di depan rumahku. Dingin udara malam tak pernah aku hiraukan, bahkan deras air hujan tak pernah membuatku gagal bersandar dibangku ini. Setiap malam aku selalu berdoa ditemani bintang yang mulai redup terbungkus awan. Suasana inilah yang selalu aku inginkan, badai sekalipun tak akan membuatku merenungi beberapa hal yang ku anggap kecil, tetapi terus mengitari ingatanku, entah bagaimana caranya itu. Apalagi hal kecil itu tentang asa yang selama ini aku gantungkan, tentang Andi kekasihku. Ketika peristiwa baru mulai terukir. Ketika kebutuhan tak kuat hanya sekedar dalam impian. Saat itulah ketika peristiwa ini bermula kemudian menjadi akhir dari sebuah perkenalan
.
Sesaat setelah aku pandangi bulan yang membiarkan diri terhalang kabut hitam, teringatlah aku pada dua bulan kisah indah itu berjalan begitu cepat. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu pergi ke taman di belakang kampus, begitu damai rasanya melihat hamparan rumput dan bunga yang berwarna- warni. Seakan membuatku terlena akan keindahan itu. Tak jarang inspirasi timbul dalam suasana damai disana. Siang itu aku sedang duduk, tiba- tiba ada seorang lelaki tampan yang selalu tersenyum dari balik pohon. Hingga akhirnya dia duduk disebelahku tanpa aku tahu hentakkan kakinya sedikitpun. Dialah Andi, pertemuan kami siang itu berujung pada sebuah perasaan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Dia anak seorang dosen yang rumahnya tak jauh dari taman kampus.
 Entah begitu cepat Andi masuk dalam fikiran dan ruang kosong yang selama ini  menanti. Kebahagianku bertambah saat tahu bahwa Andi menyimpan perasaan yang sama denganku. Seminggu setelah hubunganku berjalan dengen Andi, temanku Tyas, dia sahabat yang selalu menemaniku setiap hari. Tetapi tak seperti biasa dia mulai menjauhiku, bahkan dia memilih untuk bermain dan membaca buku di perpustakaan daripada ikut denganku bertemu Andi. Dikelas pun dia tak lagi duduk sebangku denganku, semua teman- temanku menjauh. Entahlah apa yang mereka fikirkan. Satu- satunya yang menjadi pendengarku adalah Andi. Keramaian semakin membuat kacau pikiranku, kusandarkan tubuhku pada sebuah pohon yang besar dan tinggi menjulang mencakar langit yang mendung itu. Kebesarannya inilah yang membuatku nyaman untuk bersembunyi dari segala macam perkara kehidupan yang melilitku, ketika aku merasakan kebahagian bersama Andi semua orang yang ada dalam hidupku bertingkah aneh. Tak akan ada yang tahu dan mengenaliku kecuali daun- daun kering yang berjatuhan tanpa diminta. Masalah ini sudah cukup menjadikanku menggigil untuk pulang. Pandangan orang seperti pedang tajam dan berkilat yang siap menjerat fikiranku. Apalagi banyak orang berbusana putih yang datang kerumah, ibuku yang meminta mereka. Apa yang sudah terjadi pada seisi rumah ini. Dalam benakku hanya ada jalan yang terbentang membatasi kebebasan untuk berlalu kemanapun aku suka.

 Mungkin ayah dan ibu berfikir anaknya sudah melampaui batas kewajaran karena sejak bersama Andi selalu aku habiskan waktuku bersamanya. Walau aku tidak bisa menyalahkan, wajar saja, aku pun akan berlaku sama jika aku adalah ayah ibu. Aku, putri cantiknya yang telah beranjak dewasa, buktinya telah banyak bunga mawar kering berbulan- bulan di dalam kamar. Sebenarnya, masa kecilku lebih bahagia daripada dewasa ini, Banyak hal yang aku lakukan bersama mereka. Setiap malam Andi meneleponku dengan suaranya yang parau selalu membuatku tak ingin melewatkan itu. Pernah sesekali ibu melihatku dengan aneh, karena mungkin anaknya terlalu sibuk dengan urusan cinta. Apalagi ayah yang tak mengizinkan aku keluar bersama Andi, tapi aku sering melawan karena tak mau melukai hati Andi yang sudah menunggu di luar. Setiap sore kami selalu habiskan waktu untuk duduk bersama pada bangku, tepatnya diseberang jalan di depan rumahku. Saat itu angin begitu kencang dan Andi memberikan sebuah sajadah birunya padaku. Sajadah itu berbeda ada bekas noda yang rasanya susah dihapus, mungkin Andi tak sempat mencuci sajadah birunya ini. Kusimpan baik- baik sajadah itu, bahkan aku selalu menggunakannya setiap waktu sholat. Andi benar- benar membuatku menjadi wanita yang sempurna.
Meradang harapan yang selama ini aku punyai. Sejak kecil aku telah mengimpikan seorang pangeran yang tampan, dan aku pikir dewasa ini Andi lah lelaki itu. Permasalahannya ayah ibuku tak suka dengan Andi. Semua itu terlihat saat aku mencoba membawa Andi kerumah dan memperkenalkannya kepada ayah dan ibu. Mata ibu berkaca dan keduanya masuk kamar tanpa sempat berjabat tangan dengan Andi. Sekuat tenaga aku menghibur hati Andi, tetapi dengan sikap orangtuaku Andi hanya tersenyum. Andi benar- benar tak memasukkan dalam hati, meski aku sedikit jengkel dengan orangtuaku. Tapi Andi tak pernah marah kepadaku atas apa yang mereka lakukan. Setelah kejadian itu aku mendesak Andi untuk memperkenalkanku dengan orangtuanya. Tetapi ketika kami berjalan menuju rumahnya, aku berhenti karena banyak sekali orang dirumah besar yang sedikit tua itu. aku urungkan niatku karena aku fikir ada acara dirumah itu. Apa yang ada dipikiran mereka jika Andi pulang membawa seorang wanita. Karena cuaca mendung, kami berpisah di seberang jalan itu. Sampainya aku dirumah tak lupa aku tulis hal yang ku anggap menarik dalam dairyku.

Seminggu setelah kejadian itu Andi menghilang bagai terhampas dari bumi, dia tak lagi meneleponku. Membuat pikiranku kacau. Hebatnya lagi dia tak pernah lagi datang menemuiku di taman belakang kampus. Ataukah dia lupa bahwa kisah kita baru diukir. Mungkin dia sakit, atau sedang pergi berlibur ke luar negeri bersama keluarganya. Pikiran itu selalu membuatku bersedih dan mengurung diri dalam kamar. Ayah dan ibu begitu khawatir dengan keadaanku, bahkan akhir- akhir ini aku sering mendengar ada suara Tyas dari balik pintu kamar. Tapi aku tak pernah hiraukan, pikiran hanya tertuju pada Andi kekasihku. Tiga hari di dalam kamar membuatku penat dan berantakan, keluarlah aku dari kamar. Wajah senang dari ayah ibu dan teman- temanku seakan membuat hati ini tenang. Sepertinya mereka menunggu aku membuka pintu dari tiga hari yang lalu semenjak aku mengurung diri. Aku ceritakan pada semua alasanku berlaku demikian. Tiba- tiba ayah menarik tanganku dan membawaku ke rumah Andi. Berharap aku bisa menemukan jawaban dari kegundahan hati yang selama ini aku rasakan.
Sesampainya dirumah Andi seorang pembantu keluar dan memanggil tuan serta  nyonyanya. Masuklah aku bersama ayah ibu juga Tyas ke dalam rumah yang klasik dan penuh dengan motif bunga, aku pandangi sekeliling rumah banyak sekali pigora yang berisi foto kekasihku yang amat aku rindukan. Setengah terkejut aku melihat mama dan papa Andi yang turun dari tangga, dan tersenyum manis padaku dan semua.
Papa Andi   : apakah kalian teman Andi?
Aku             : perkenalkan om saya Risma, ini orangtua dan sahabat saya, saya                                            kekasih Andi.
( Seperti terkena petir raut muka orangtua itu berubah menjadi suram)
Papa Andi   : Senang sekali bisa bertemu kamu nak, sebelum Andi bisa                   memperkenalkanmu kepada kami, apakah kamu wanita     yang sering duduk dan menulis di belakang taman kampus?
Aku          : Iya om, saya suka sekali menulis disana. Bahkan Andi sering                            menemani saya. Tapi seminggu ini saya tidak pernah melihat                          Andi lagi, dia tak pernah menelepon lagi. Apakah Andi sakit om?

Papa Andi    : kapan nak terakhir bertemu dengan Andi ?

Aku              : dua minggu yang lalu om, kami berjumpa dan menghabiskan waktu             bersama, tetapi minggu pertama setelah kami berpisah diseberang jalan depan rumah ini Andi tak pernah ada kabar lagi. Saya selalu menantikannya setiap saat. Andi baik- baik saja kan    om?
Papa Andi    : begini nak, genap dua minggu kami kehilangan sosok putra                                       kebanggan kami, dia meninggal karena kecelakaan ketika                                               akan berangkat menuju masjid untuk sholat. Kejadiannya begitu                             cepat.   Sampai Andi tak tertolong lagi. Dia sempat bercerita akan                            menemui gadis cantik yang dia sukai yang selalu duduk di                                       belakang kampus. Namun Tuhan berkehendak lain. Gadis itu                            adalah kamu nak…

Seketika airmataku begitu deras mengalir dan tak terasa badanku jatuh begitu saja.

Setelah dua jam lebih aku tak sadar diri, aku baru terbangun dan disampingku sudah ada ayah ibu yang memelukku begitu hangat. Airmata mereka begitu deras, aku hanya terdiam. Dua minggu yang lalu bukannya awal perjumpaanku dengannya, jika berita ini benar, arwah Andi yang selama ini bersamaku. Dan kejadian seminggu yang lalu ketika aku lihat banyak sekali orang di rumah Andi yang kukira acara keluarga dan menjadi perpisahan diantara kami, adalah hari dimana genap tujuh hari andi meninggal. Wajar saja semua orang berubah, pasti mereka menganggapku sudah gila, ketika Tyas yang tiba- tiba menjauhiku, ayah dan ibu yang tiba- tiba pergi dan hanya bisa menangis ketika aku mencoba memperkenalkan Andi kepada mereka. Sore itu kami pergi ke makam Andi disanalah aku bersimpuh antara percaya atau tidak. Sesampainya di rumah aku berlari ke dalam kamar, ku ambil sajadah biru pemberian kekasihku itu. Dan melihat noda itu aku bersimpuh dan menangis sekuat- kuatnya dan mencoba mengingat ketika Andi memberikan sajadah itu untukku. “Oh sayang, jadi ini sajadah yang engkau bawa ketika hendak menuju masjid dan mobil kencang itu membuatmu menutupkan mata sebelum bisa menemuiku.. noda yang dulu pernah aku cuci adalah berkas darahmu…kenapa ini semua terjadi Tuhan?. Tenanglah di surga sayang, akan aku kenakan sajadah ini dalam setiap ibadah dan doaku. Selamat jalan sayang…” Kataku dengan suara merintih dan airmata itu semakin deras.

Andi sudah tiada, namun kenangan bersamanya adalah hal indah yang tak akan terlupa. Bahkan ketika aku harus bertemu dan menikah dengan Andi yang lainnya nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar