Laman

Rabu, 01 Maret 2017

TATA PANGGUNG DALAM DRAMA FILM MAHABARATA



Description: logo-unej.jpg

MAKALAH

TATA PANGGUNG DALAM DRAMA FILM
MAHABARATA







Diajukan guna melengkapi tugas
Apresiasi Drama Kelas A


Disusun oleh:
Mega Windayana                    120210402020
Ryandhita Lingga N               120210402037
Dina Firdania Putri                 120210402014
                                    Atiqotul Fitriyah                     120210402049
                                    Heri Suci Romadani                120210402040



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013/ 2014

1.      PENDAHULUAN

Drama juga salah satu bentuk karya sastra yang mana penulis menyampaikan ide ceritanya lewat akting dan dialog. Sebelum diselenggarakannya sebuah pementasan drama, penulis terlebih dahulu menuangkan ide cerita dan pesan yang ia miliki ke dalam bentuk tulisan yang disebut naskah, naskah drama. Melalui naskah, pembaca sebagai penikmat ataupun pengapresiasi drama tidak hanya dapat menjadikan naskah drama sebagai bahan bacaan. Tetapi juga dapat membayangkan proses penafsiran estetik yang telah berlangsung dari jagad teks ke jagad panggung atau pentas. Drama itu tidak untuk dibaca, tetapi untuk dipertunjukkan (Sumarjo,1984 :126- 127). Selain itu, naskah drama juga dapat dijadikan pegangan ketika penikmat drama tidak tahu atau bahkan tidak mengenal tentang drama yang akan diapresiasinya. Pentas adalah suasana tempat dimana jiwa manusia dapat terbang dengan bebas (Taylor,1981 : 1).
Melalui drama film Mahabarata dapat dijadikan pegangan, yang membentuk penonton membangun konsep yang ada dalam drama tersebut. Adanya tata panggung yang memukau mempermudah menemukan tokoh beserta penokohannya yang terlibat konflik dalam sebuah drama. Konflik yang diciptakan oleh pengarang umumnya merupakan representasi kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dari drama pula penonton dapat belajar dan mengoreksi diri akan arti kehidupan. Banyak hal yang dapat diperoleh apabila penonton sebagai penikmat drama tidak hanya memandang drama dari satu sisi pengetahuan yang dimiliki. Tetapi secara terbuka menerima drama dan unsur-unsur pembentuknya. Dari sanalah kemudian akan muncul suatu kecintaan baru dan apresiasi yang tinggi terhadap drama yang telah diapresiasi tersebut.
Di jagad pementasan drama Indonesia, Mahabarata tidaklah asing lagi. Tata panggung dalam drama akan dibahas dalam makalah ini, mengingat bahwa panggung menjadi syarat penting bagi sebuah pementasan drama. Gebrakan-gebrakan yang dilakukannya memberikan warna baru dalam dunia kesastraan di Indonesia, terutama drama. Melalui “Mahabarata” memberikan gambaran kehidupan yang sebenarnya serta problema manusia dalam kehidupan. Sehingga konflik yang merupakan representasi dari kehidupan nyata dapat bersama-sama dimanfaatkan dan diaplikasikan nilai yang berbudi luhur dalam kehidupan sehari-hari.

2. PEMBAHASAN
1. Pengetahuan Tata Pentas
Tata pentas bisa disebut juga dengan scenery atau pemandangan latar belakang (Background) tempat memainkan lakon. Tata pentas dalam pengertian luas adalah suasana seputar gerak laku di atas pentas dan semua elemen-elemen visual atau yang terlihat oleh mata yang mengitari pemeran dalam pementasan. Tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu benda yang membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan gerak laku. Dengan mengacu pada definisi di atas dapat ditarik suatu pengertian bahwa tata pentas adalah semua latar belakang dan benda-benda yang ada dipanggung guna menunjang seorang pemeran memainkan lakon.
Sebelum memahami lebih jauh tentang tata pentas, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud pentas itu sendiri. Pentas menurut Pramana Padmodarmaya ialah tempat pertunjukan dengan pertunjukan kesenian yang menggunakan manusia (pemeran) sebagai media utama. Dalam hal ini misalnya pertunjukan tari , teater tradisional ( ketoprak, ludruk, lenong, longser, randai makyong, mendu, mamanda, arja dan lain sebagainya), sandiwara atau drama nontradisi baik sandiwara baru maupun teater kontemporer. Webster mendefinisikan pentas sebagai suatu tempat yang tinggi dimana lakon-lakon drama dipentaskan atau suatu tempat dimana para aktor bermain. Sedang W.J.S. Purwadarminta dalam kamus umum bahasa Indonesia menerangkan pentas sebagai lantai yang agak ketinggian dirumah (untuk tempat tidur) ataupun di dapur (untuk memasak). Dengan demikian kalau disimpulkan pentas adalah suatu tempat dimana para penari atau pemeran menampilkan seni pertunjukan dihadapan penonton.
Selain istilah pentas kita mengenal istilah panggung. Panggung menurut Purwadarminta ialah lantai yang bertiang atau rumah yang tinggi atau lantai yang berbeda ketinggiannya untuk bermain sandiwara, balkon atau podium. Dalam seni pertunjukan panggung dikenal dengan istilah Stage melingkupi pengertian seluruh panggung. Jika panggung merupakan tempat yang tinggi agar karya seni yang diperagakan diatasnya dapat terlihat oleh penonton, maka pentas juga merupakan suatu ketinggian yang dapat membentuk dekorasi, ruang tamu, kamar belajar, rumah adat dan sebagainya. Jadi beda panggung dengan pentas ialah pentas dapat berada diatas panggung atau dapat pula di arena atau lapangan.
Dari pengertian di atas dapat dijelaskan, pentas merupakan bagian dari panggung yaitu suatu tempat yang ditinggikan yang berisi dekorasi dan penonton dapat jelas melihat. Dalam istilah sehari-hari sering disebut dengan panggung pementasan, dan apabila suatu seni pertunjukan dipergelarkan tanpa menggunakan panggung maka disebut arena pementasan. Sehingga pementasan dapat diadakan diarena atau lapangan.
Kini yang dianggap pentas bagi seni pertunjukan kontemporer tidak saja berupa panggung yang biasa terdapat pada sebuah gedung akan tetapi keseluruhan dari pada gedung itulah pentas, yakni panggung dan tempat orang menonton. Sebab pada penampilan seni pertunjukan tokoh dapat saja turun berkomunikasi dengan penontonnya atau ia dapat muncul dari arah penonton. Seperti istilah Shakespeare bahwa seluruh dunia ini adalah pentas ( all the word’s stage). Dengan begitu bisa saja setiap lingkungan masyarakat memiliki sebuah pentas yang memadai dan sesuai untuk mementaskan sebuah seni pertunjukan.


2. Macam-Macam Panggung
Secara fisik bentuk panggung dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu panggung tertutup, panggung terbuka dan panggung kereta. panggung tertutup terdiri dari panggung prosenium, panggung portable dan juga dapat berupa arena. Sedangkan panggung terbuka atau lebih dikenal dengan sebutan open air stage dan bentuknya juga bermacam-macam.
a. Panggung Prosenium atau Panggung Pigura
Panggung prosenium merupakan panggung konvensional yang memiliki ruang prosenium atau suatu bingkai gambar melalui mana penonton menyaksikan pertunjukan. Hubungan antara panggung dan auditorium dipisahkan atau dibatasi oleh dinding atau lubang prosenium. Sedangkan sisi atau tepi lubang prosenium bisa berupa garis lengkung atau garis lurus yang dapat disebut dengan pelengkung prosenium (Proscenium Arch).
Panggung prosenium dibuat untuk membatasi daerah pemeranan dengan penonton. Arah dari panggung ini hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan penonton lebih terpusat kearah pertunjukan. Para pemeran diatas panggung juga agar lebih jelas dan memusatkan perhatian penonton. Dalam kesadaran itulah maka keadaan pentas prosenium harus dapat memenuhi fungsi melayani pertunjukan dengan sebaik-baiknya.
Dengan kesadaran bahwa penonton yang datang hanya bermaksud untuk menonton pertunjukan, oleh karena itu harus dihindarikan sejauh mungkin apa yang nampak dalam pentas prosenium yang sifatnya bukan pertunjukan. Maka dipasanglah layar-layar (curtain) dan sebeng-sebeng (Side wing). Maksudnya agar segala persiapan pertunjukan dibelakang pentas yang sifatnya bukan pertunjukan tidak dilihat oleh penonton. Pentas prosenium tidak seakrab pentas arena, karena memang ada kesengajaan atau kesadaran membuat pertunjukan dengan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran-ukuran atau nilai-nilai tertentu dari pertunjukan itu kemudian menjadi konvensi. Maka dari itu pertunjukan yang melakukan konvensi demikian disebut dengan pertunjukan konvensional.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-proscenium1.jpg?w=300&h=249Gambar 1. Denah panggung Prosenium
b. Panggung Portable
Panggung portable yaitu panggung tanpa layar muka dan dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung dengan mempergunakan panggung (podium, platform) yang dipasang dengan kokoh di atas kuda-kuda. Sebagai tempat penonton biasanya mempergunakan kursi lipat. Adegan-adegan dapat diakhiri dengan mematikan lampu (black out) sebagai pengganti layar depan. Dengan kata lain bahwa panggung portable yaitu panggung yang dibuat secara tidak permanen.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-potable.jpg?w=300&h=131
Gambar 2. Panggung portable

c. Panggung Arena
Panggung arena merupakan bentuk panggung yang paling sederhana dibandingkan dengan bentuk-bentuk pangung yang lainnya. Panggung ini dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung asal dapat dipergunakan secara memadai. Kursi-kursi penonton diatur sedemikian rupa sehingga tempat panggung berada di tengah dan antara deretan kursi ada lorong untuk masuk dan keluar pemain atau penari menurut kebutuhan pertunjukan tersebut. Papan penyangga (peninggi) ditempatkan di belakang masing-masing deret kursi, sehingga kursi deretan belakang dapat melihat dengan baik tanpa terhalang penonton dimukanya. Sebagai penganti layar pada akhir pertunjukan atau pergantian babak dapat digunakan dengan cara mematikan lampu (black out). Perlengkapan tata lampu dapat dibuatkan tiang-tiang tersendiri dan penempatannya harus tidak mengganggu pandangan penonton.
Berbagai ragam bentuk panggung arena adalah sebagai berikut :
c.1. Panggung arena tapal kuda adalah panggung dimana separuh bagian pentas atau panggung masuk kebagian penonton sehingga membentuk lingkaran tapal kuda.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-arena-tapal-kuda.jpg?w=300&h=255Gambar 3. Denah panggung arena tapal kuda
c.2. Panggung arena ¾, berarti ¾ dari panggung masuk kearah penonton atau dengan kata lain penonton dapat menyaksikan pementasan dari tiga sisi atau arah penjuru panggung. Panggung arena ¾ biasanya berupa pentas arena bentuk U.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-arena-u.jpg?w=300&h=188Gambar 4. Denah panggung arena bentuk U
c.3. Panggung arena penuh yaitu dimana penonton dapat menyaksikan pertunjukan dari segala sudut atau arah dan arena permainan berada di tengah-tengah penonton. Panggung arena penuh biasanya panggung arena bujur sangkar atau panggung arena bentuk lingkaran.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-arena-bujur-sangkar1.jpg?w=299&h=300Gambar 5. Denah panggung arena bujur sangkar
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-arena-lingkaran1.jpg?w=300&h=300Gambar 6. Denah panggung arena bentuk lingkaran
d. Panggung Terbuka
Panggung terbuka sebetulnya lahir dan dibuat di daerah atau tempat terbuka. Berbagai variasi dapat digunakan untuk memproduksi pertunjukan di tempat terbuka. Pentas dapat dibuat di beranda rumah, teras sebuah gedung dengan penonton berada di halaman, atau dapat diadakan disebuah tempat yang landai dimana penonton berada di bagian bawah tempat tersebut. Panggung terbuka permanen (open air stage) yang cukup popular di Indonesia antara lain adalah panggung terbuka di Candi Prambanan.
Description: http://teaterku.files.wordpress.com/2010/03/panggung-terbuka.jpg?w=300&h=252Gambar 7. Denah panggung terbuka
e. Panggung Kereta
Panggung kereta disebut juga dengan panggung keliling dan digunakan untuk mempertunjukkan karya-karya teater dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan panggung yang dibuat di atas kereta. Perkembangan sekarang panggung tidak dibuat di atas kereta tetapi dibuat diatas mobil trailer yang diperlengkapi menurut kebutuhan dan perlengkapan tata cahaya yang sesuai dengan kebutuhan pentas. Jadi kelompok kesenian dapat mementaskan karyanya dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus memikirkan gedung pertunjukan tetapi hanya mencari tanah yang agak lapang untuk memarkir kereta dan penonton bebas untuk menonton.
3. Pokok-pokok Persyaratan Set Panggung/Pentas
Set panggung atau pentas (scenery) yaitu penampilan visual lingkungan sekitar gerak laku pemeran dalam sebuah lakon. Untuk itu dalam merancang pentas harus memperhatikan aspek-aspek tempat gerak-laku, memperkuat gerak-laku dan mendandani atau memperindah gerak-laku. Oleh sebab itu, tugas seorang perancang pentas hendaklah merencanakan set-nya sedemikian rupa sehingga :

  1. Dapat memberi ruang kepada gerak-laku.
  2. Dapat memberi pernyataan suasana lakon.
  3. Dapat memberi pandangan yang menarik.
  4. Dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton.
  5. Merupakan rancangan yang sederhana
  6. Dapat bermanfaat terus menerus bagi pemeran atau pelaku.
  7. Dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa.
  8. Dapat membuat rancangan yang menunjukkan bahwa setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual pentasnya memiliki hubungan satu sama lain.
Oleh karena itu, secara singkat seorang perancang pentas yang membuat set harus memiliki tujuan yaitu: lokatif, ekspresif, atraktif, jelas, sederhana, bermanfaat, praktis dan organis.
  • Lokatif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi tempat kepada gerak laku pemeran atau pelaku pertunjukan.
  • Ekspresif yaitu penataan pentas harus dapat memperkuat gerak-laku dengan memberi penjelasan, menggambarkan keadaan sekitar dan menciptakan suasana bagi gerak-laku tersebut.
  • Atraktif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi pandangan yang menarik bagi penonton.
  • Jelas yaitu penataan pentas itu harus merupakan rancangan yang dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton dari suatu jarak tertentu.
  • Sederhana yaitu penataan pentas itu harus sederhana. Sederhana tidak berarti bahwa pentas hanya terdiri dari satu meja dan dua kursi, tetapi penataannya tidak ruwet dan penonton dapat melihat dan menarik maknanya tanpa memeras pikiran dan perasaan.
  • Bermanfaat yaitu penataan pentas harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat bagi para pemeran dengan efektif dan seefisien mungkin.
  • Praktis yaitu penataan pentas itu harus dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa serta dapat memenuhi kebutuhan teknis pembuatan tata pentas atau scenery.
  • Organis yaitu penataan pentas itu harus dapat menunjukkan setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual penataannya dan memiliki hubungan satu sama lainnya.

3.      Setting Panggung Dalam Drama Film Mahabarata
Dunia panggung akan menentukan keberhasilan penonton menikmati drama. Begitu pula pemain akan ditentukan oleh kualitas panggung. Panggung seperti panggung terbuka ,biasanya terletak di luar gedung. Panggung ini sangat cocok untuk drama film. Selain itu juga ada panggung arena dalam drama film Mahabarata hampir semua menggunakan panggung terbuka. Berikut gambar yang ditampilkan :
Gambar.1
Description: E:\MHBRT\0.jpg

Keterangan : Dapat terlihat bahwa percakapan antar lakon dalam drama film ini terjadi di dekat sebuah sungai, dan sangat lekat dengan alam yang mengagumkan. Sehingga akan menambah keindahan tampilan drama film Mahabarata ini.
Gambar.2
Description: E:\MHBRT\images (5).jpg
Gambar.3
Description: E:\MHBRT\hqdefault (1).jpg
Gambar.4
Description: E:\MHBRT\images (3).jpg
Gambar.5
Description: E:\MHBRT\images (4).jpg


Keterangan : Pada gambar diatas dapat dijumpai bahwa panggung yang diambil adalah nuansa alam, yang sejuk dan permai. Hal itu akan memperkuat karakter lakon dalam drama film Mahabarata ini.
Gambar.6Description: E:\MHBRT\maxresdefault (1).jpg
Gambar.7
Description: E:\MHBRT\maxresdefault.jpg
Gambar.8
Description: E:\MHBRT\suasana-syuting-di-dalam-kerajaan-hastinapura.jpg
Keterangan : Pada gambar diatas menunjukkan bahwa dalam drama film Mahabarata ada pula panggung arena, karena di dalam ruangan pun banyak sekali dijumpai panggung arena yang disediakan untuk memperkuat drama yang ditampilkan























3.KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya panggung akan menentukan keberhasilan penonton menikmati drama. Panggung ada bermacam- macam, antara lain : (1) panggung proscenium, yaitu panggung pentas yang konvensional,(2) panggung portable, artinya panggung tanpa layar muka. (3) panggung arena,biasanya sering dipakai oleh pemain di luar ruangan. (4) panggung terbuka,biasanya terletak diluar gedung. Dalam drama film Mahabarata tata panggung yang digunakan ialah tata panggung arena dan tata panggung terbuka. Drama film ini menyajikan tata panggung yang sangat unik dan mampu mendalami unsure kehidupan sehari- hari manusia.








DAFTAR PUSTAKA

Endraswara Suwardi. 2011. Metode Pembelajaran Drama ( Apresiasi, Ekspresi,     dan Pengkajian). Yogyakarta : CAPS
Sumardjo, Jakob. 1984. Memahami Kesusastraan. Bandung : Alumni
Taylor, Loren E. 1981. Drama Formal dan Teater Remaja. Yogyakarta :                 Yayasan Taman Bina Siswa.
Teaterku.wordpress.com/2010/03/24/tata-panggung/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar