
MAKALAH
TATA
PANGGUNG DALAM DRAMA FILM
MAHABARATA
Diajukan
guna melengkapi tugas
Apresiasi
Drama Kelas A
Disusun oleh:
Mega Windayana 120210402020
Ryandhita
Lingga N 120210402037
Dina
Firdania Putri 120210402014
Atiqotul Fitriyah
120210402049
Heri Suci Romadani
120210402040
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA
DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2013/ 2014
1.
PENDAHULUAN
Drama juga salah satu bentuk karya sastra
yang mana penulis menyampaikan ide ceritanya lewat akting dan dialog. Sebelum
diselenggarakannya sebuah pementasan drama, penulis terlebih dahulu menuangkan
ide cerita dan pesan yang ia miliki ke dalam bentuk tulisan yang disebut
naskah, naskah drama. Melalui naskah, pembaca sebagai penikmat ataupun
pengapresiasi drama tidak hanya dapat menjadikan naskah drama sebagai bahan
bacaan. Tetapi juga dapat membayangkan proses penafsiran estetik yang telah
berlangsung dari jagad teks ke jagad panggung atau pentas. Drama itu tidak
untuk dibaca, tetapi untuk dipertunjukkan (Sumarjo,1984 :126- 127). Selain itu,
naskah drama juga dapat dijadikan pegangan ketika penikmat drama tidak tahu
atau bahkan tidak mengenal tentang drama yang akan diapresiasinya. Pentas
adalah suasana tempat dimana jiwa manusia dapat terbang dengan bebas
(Taylor,1981 : 1).
Melalui drama film Mahabarata dapat
dijadikan pegangan, yang membentuk penonton membangun konsep yang ada dalam
drama tersebut. Adanya tata panggung yang memukau mempermudah menemukan tokoh
beserta penokohannya yang terlibat konflik dalam sebuah drama. Konflik yang
diciptakan oleh pengarang umumnya merupakan representasi kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, dari drama pula penonton dapat belajar dan mengoreksi diri
akan arti kehidupan. Banyak hal yang dapat diperoleh apabila penonton sebagai
penikmat drama tidak hanya memandang drama dari satu sisi pengetahuan yang
dimiliki. Tetapi secara terbuka menerima drama dan unsur-unsur pembentuknya. Dari
sanalah kemudian akan muncul suatu kecintaan baru dan apresiasi yang tinggi
terhadap drama yang telah diapresiasi tersebut.
Di jagad
pementasan drama Indonesia, Mahabarata tidaklah asing lagi. Tata panggung dalam
drama akan dibahas dalam makalah ini, mengingat bahwa panggung menjadi syarat
penting bagi sebuah pementasan drama. Gebrakan-gebrakan yang dilakukannya
memberikan warna baru dalam dunia kesastraan di Indonesia, terutama drama.
Melalui “Mahabarata” memberikan gambaran kehidupan yang sebenarnya serta
problema manusia dalam kehidupan. Sehingga konflik yang merupakan representasi
dari kehidupan nyata dapat bersama-sama dimanfaatkan dan diaplikasikan nilai
yang berbudi luhur dalam kehidupan sehari-hari.
2. PEMBAHASAN
1. Pengetahuan Tata Pentas
Tata pentas bisa disebut juga dengan scenery
atau pemandangan latar belakang (Background) tempat memainkan lakon.
Tata pentas dalam pengertian luas adalah suasana seputar gerak laku di atas
pentas dan semua elemen-elemen visual atau yang terlihat oleh mata yang
mengitari pemeran dalam pementasan. Tata pentas dalam pengertian teknik
terbatas yaitu benda yang membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi
batas lingkungan gerak laku. Dengan mengacu pada definisi di atas dapat ditarik
suatu pengertian bahwa tata pentas adalah semua latar belakang dan benda-benda
yang ada dipanggung guna menunjang seorang pemeran memainkan lakon.
Sebelum memahami lebih jauh tentang tata
pentas, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud pentas itu sendiri. Pentas
menurut Pramana Padmodarmaya ialah tempat pertunjukan dengan pertunjukan
kesenian yang menggunakan manusia (pemeran) sebagai media utama. Dalam hal ini
misalnya pertunjukan tari , teater tradisional ( ketoprak, ludruk, lenong,
longser, randai makyong, mendu, mamanda, arja dan lain sebagainya), sandiwara
atau drama nontradisi baik sandiwara baru maupun teater kontemporer. Webster
mendefinisikan pentas sebagai suatu tempat yang tinggi dimana lakon-lakon drama
dipentaskan atau suatu tempat dimana para aktor bermain. Sedang W.J.S.
Purwadarminta dalam kamus umum bahasa Indonesia menerangkan pentas sebagai
lantai yang agak ketinggian dirumah (untuk tempat tidur) ataupun di dapur
(untuk memasak). Dengan demikian kalau disimpulkan pentas adalah suatu tempat
dimana para penari atau pemeran menampilkan seni pertunjukan dihadapan
penonton.
Selain istilah pentas kita mengenal istilah
panggung. Panggung menurut Purwadarminta ialah lantai yang bertiang atau rumah
yang tinggi atau lantai yang berbeda ketinggiannya untuk bermain sandiwara, balkon
atau podium. Dalam seni pertunjukan panggung dikenal dengan istilah Stage
melingkupi pengertian seluruh panggung. Jika panggung merupakan tempat yang
tinggi agar karya seni yang diperagakan diatasnya dapat terlihat oleh penonton,
maka pentas juga merupakan suatu ketinggian yang dapat membentuk dekorasi,
ruang tamu, kamar belajar, rumah adat dan sebagainya. Jadi beda panggung dengan
pentas ialah pentas dapat berada diatas panggung atau dapat pula di arena atau
lapangan.
Dari pengertian di atas dapat dijelaskan,
pentas merupakan bagian dari panggung yaitu suatu tempat yang ditinggikan yang
berisi dekorasi dan penonton dapat jelas melihat. Dalam istilah sehari-hari
sering disebut dengan panggung pementasan, dan apabila suatu seni pertunjukan
dipergelarkan tanpa menggunakan panggung maka disebut arena pementasan.
Sehingga pementasan dapat diadakan diarena atau lapangan.
Kini yang dianggap pentas bagi seni pertunjukan
kontemporer tidak saja berupa panggung yang biasa terdapat pada sebuah gedung
akan tetapi keseluruhan dari pada gedung itulah pentas, yakni panggung dan
tempat orang menonton. Sebab pada penampilan seni pertunjukan tokoh dapat saja
turun berkomunikasi dengan penontonnya atau ia dapat muncul dari arah penonton.
Seperti istilah Shakespeare bahwa seluruh dunia ini adalah pentas ( all the
word’s stage). Dengan begitu bisa saja setiap lingkungan masyarakat
memiliki sebuah pentas yang memadai dan sesuai untuk mementaskan sebuah seni
pertunjukan.
2. Macam-Macam Panggung
Secara fisik bentuk panggung dapat dibagi
menjadi tiga macam, yaitu panggung tertutup, panggung terbuka dan panggung
kereta. panggung tertutup terdiri dari panggung prosenium, panggung portable
dan juga dapat berupa arena. Sedangkan panggung terbuka atau lebih dikenal
dengan sebutan open air stage dan bentuknya juga bermacam-macam.
a. Panggung Prosenium atau Panggung Pigura
Panggung prosenium merupakan panggung
konvensional yang memiliki ruang prosenium atau suatu bingkai gambar melalui
mana penonton menyaksikan pertunjukan. Hubungan antara panggung dan auditorium
dipisahkan atau dibatasi oleh dinding atau lubang prosenium. Sedangkan sisi
atau tepi lubang prosenium bisa berupa garis lengkung atau garis lurus yang
dapat disebut dengan pelengkung prosenium (Proscenium Arch).
Panggung prosenium dibuat untuk membatasi
daerah pemeranan dengan penonton. Arah dari panggung ini hanya satu jurusan
yaitu kearah penonton saja, agar pandangan penonton lebih terpusat kearah
pertunjukan. Para pemeran diatas panggung juga agar lebih jelas dan memusatkan
perhatian penonton. Dalam kesadaran itulah maka keadaan pentas prosenium harus
dapat memenuhi fungsi melayani pertunjukan dengan sebaik-baiknya.
Dengan kesadaran bahwa penonton yang datang
hanya bermaksud untuk menonton pertunjukan, oleh karena itu harus dihindarikan
sejauh mungkin apa yang nampak dalam pentas prosenium yang sifatnya bukan
pertunjukan. Maka dipasanglah layar-layar (curtain) dan sebeng-sebeng (Side
wing). Maksudnya agar segala persiapan pertunjukan dibelakang pentas yang
sifatnya bukan pertunjukan tidak dilihat oleh penonton. Pentas prosenium tidak
seakrab pentas arena, karena memang ada kesengajaan atau kesadaran membuat
pertunjukan dengan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran-ukuran atau nilai-nilai
tertentu dari pertunjukan itu kemudian menjadi konvensi. Maka dari itu
pertunjukan yang melakukan konvensi demikian disebut dengan pertunjukan
konvensional.
b. Panggung Portable
Panggung portable yaitu panggung tanpa layar
muka dan dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung dengan mempergunakan
panggung (podium, platform) yang dipasang dengan kokoh di atas kuda-kuda.
Sebagai tempat penonton biasanya mempergunakan kursi lipat. Adegan-adegan dapat
diakhiri dengan mematikan lampu (black out) sebagai pengganti layar
depan. Dengan kata lain bahwa panggung portable yaitu panggung yang dibuat
secara tidak permanen.
Gambar 2. Panggung portable
c. Panggung Arena
Panggung arena merupakan bentuk panggung yang
paling sederhana dibandingkan dengan bentuk-bentuk pangung yang lainnya.
Panggung ini dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung asal dapat
dipergunakan secara memadai. Kursi-kursi penonton diatur sedemikian rupa
sehingga tempat panggung berada di tengah dan antara deretan kursi ada lorong
untuk masuk dan keluar pemain atau penari menurut kebutuhan pertunjukan
tersebut. Papan penyangga (peninggi) ditempatkan di belakang masing-masing
deret kursi, sehingga kursi deretan belakang dapat melihat dengan baik tanpa
terhalang penonton dimukanya. Sebagai penganti layar pada akhir pertunjukan
atau pergantian babak dapat digunakan dengan cara mematikan lampu (black out).
Perlengkapan tata lampu dapat dibuatkan tiang-tiang tersendiri dan penempatannya
harus tidak mengganggu pandangan penonton.
Berbagai ragam bentuk panggung arena adalah sebagai berikut :
c.1. Panggung arena tapal kuda adalah panggung dimana separuh bagian pentas
atau panggung masuk kebagian penonton sehingga membentuk lingkaran tapal kuda.
c.2. Panggung arena ¾, berarti ¾ dari panggung masuk kearah penonton atau
dengan kata lain penonton dapat menyaksikan pementasan dari tiga sisi atau arah
penjuru panggung. Panggung arena ¾ biasanya berupa pentas arena bentuk U.
c.3. Panggung arena penuh yaitu dimana penonton dapat menyaksikan
pertunjukan dari segala sudut atau arah dan arena permainan berada di
tengah-tengah penonton. Panggung arena penuh biasanya panggung arena bujur
sangkar atau panggung arena bentuk lingkaran.
d. Panggung Terbuka
Panggung terbuka sebetulnya lahir dan dibuat di
daerah atau tempat terbuka. Berbagai variasi dapat digunakan untuk memproduksi
pertunjukan di tempat terbuka. Pentas dapat dibuat di beranda rumah, teras
sebuah gedung dengan penonton berada di halaman, atau dapat diadakan disebuah
tempat yang landai dimana penonton berada di bagian bawah tempat tersebut.
Panggung terbuka permanen (open air stage) yang cukup popular di
Indonesia antara lain adalah panggung terbuka di Candi Prambanan.
e. Panggung Kereta
Panggung kereta disebut juga dengan panggung keliling
dan digunakan untuk mempertunjukkan karya-karya teater dari satu tempat ke
tempat lain dengan menggunakan panggung yang dibuat di atas kereta.
Perkembangan sekarang panggung tidak dibuat di atas kereta tetapi dibuat diatas
mobil trailer yang diperlengkapi menurut kebutuhan dan perlengkapan tata cahaya
yang sesuai dengan kebutuhan pentas. Jadi kelompok kesenian dapat mementaskan
karyanya dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus memikirkan gedung
pertunjukan tetapi hanya mencari tanah yang agak lapang untuk memarkir kereta
dan penonton bebas untuk menonton.
3. Pokok-pokok Persyaratan Set Panggung/Pentas
Set panggung atau pentas (scenery) yaitu
penampilan visual lingkungan sekitar gerak laku pemeran dalam sebuah lakon.
Untuk itu dalam merancang pentas harus memperhatikan aspek-aspek tempat
gerak-laku, memperkuat gerak-laku dan mendandani atau memperindah gerak-laku.
Oleh sebab itu, tugas seorang perancang pentas hendaklah merencanakan set-nya
sedemikian rupa sehingga :
- Dapat memberi ruang kepada gerak-laku.
- Dapat memberi pernyataan suasana lakon.
- Dapat memberi pandangan yang menarik.
- Dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton.
- Merupakan rancangan yang sederhana
- Dapat bermanfaat terus menerus bagi pemeran atau pelaku.
- Dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa.
- Dapat membuat rancangan yang menunjukkan bahwa setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual pentasnya memiliki hubungan satu sama lain.
Oleh karena itu, secara singkat seorang perancang pentas yang membuat set
harus memiliki tujuan yaitu: lokatif, ekspresif, atraktif, jelas, sederhana,
bermanfaat, praktis dan organis.
- Lokatif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi tempat kepada gerak laku pemeran atau pelaku pertunjukan.
- Ekspresif yaitu penataan pentas harus dapat memperkuat gerak-laku dengan memberi penjelasan, menggambarkan keadaan sekitar dan menciptakan suasana bagi gerak-laku tersebut.
- Atraktif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi pandangan yang menarik bagi penonton.
- Jelas yaitu penataan pentas itu harus merupakan rancangan yang dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton dari suatu jarak tertentu.
- Sederhana yaitu penataan pentas itu harus sederhana. Sederhana tidak berarti bahwa pentas hanya terdiri dari satu meja dan dua kursi, tetapi penataannya tidak ruwet dan penonton dapat melihat dan menarik maknanya tanpa memeras pikiran dan perasaan.
- Bermanfaat yaitu penataan pentas harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat bagi para pemeran dengan efektif dan seefisien mungkin.
- Praktis yaitu penataan pentas itu harus dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa serta dapat memenuhi kebutuhan teknis pembuatan tata pentas atau scenery.
- Organis yaitu penataan pentas itu harus dapat menunjukkan setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual penataannya dan memiliki hubungan satu sama lainnya.
3.
Setting
Panggung Dalam Drama Film Mahabarata
Dunia panggung akan menentukan
keberhasilan penonton menikmati drama. Begitu pula pemain akan ditentukan oleh
kualitas panggung. Panggung seperti panggung terbuka ,biasanya terletak di luar
gedung. Panggung ini sangat cocok untuk drama film. Selain itu juga ada
panggung arena dalam drama film Mahabarata hampir semua menggunakan panggung
terbuka. Berikut gambar yang ditampilkan :
Gambar.1

Keterangan : Dapat terlihat bahwa percakapan antar lakon dalam drama film
ini terjadi di dekat sebuah sungai, dan sangat lekat dengan alam yang
mengagumkan. Sehingga akan menambah keindahan tampilan drama film Mahabarata
ini.
Gambar.2

Gambar.3

Gambar.4

Gambar.5

Keterangan : Pada gambar diatas dapat dijumpai bahwa panggung yang diambil
adalah nuansa alam, yang sejuk dan permai. Hal itu akan memperkuat karakter
lakon dalam drama film Mahabarata ini.
Gambar.6

Gambar.7

Gambar.8

Keterangan : Pada gambar diatas menunjukkan bahwa dalam drama film
Mahabarata ada pula panggung arena, karena di dalam ruangan pun banyak sekali
dijumpai panggung arena yang disediakan untuk memperkuat drama yang ditampilkan
3.KESIMPULAN
Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya panggung akan menentukan
keberhasilan penonton menikmati drama. Panggung ada bermacam- macam, antara
lain : (1) panggung proscenium, yaitu panggung pentas yang konvensional,(2)
panggung portable, artinya panggung tanpa layar muka. (3) panggung
arena,biasanya sering dipakai oleh pemain di luar ruangan. (4) panggung
terbuka,biasanya terletak diluar gedung. Dalam drama film Mahabarata tata
panggung yang digunakan ialah tata panggung arena dan tata panggung terbuka.
Drama film ini menyajikan tata panggung yang sangat unik dan mampu mendalami
unsure kehidupan sehari- hari manusia.
DAFTAR
PUSTAKA
Endraswara Suwardi. 2011. Metode
Pembelajaran Drama ( Apresiasi, Ekspresi, dan Pengkajian). Yogyakarta : CAPS
Sumardjo, Jakob. 1984. Memahami Kesusastraan.
Bandung : Alumni
Taylor, Loren E. 1981. Drama Formal
dan Teater Remaja. Yogyakarta :
Yayasan Taman Bina Siswa.
Teaterku.wordpress.com/2010/03/24/tata-panggung/







Tidak ada komentar:
Posting Komentar