Oleh Kelompok 6
Oki Feri Juniawan 120210402021
Ryandhita Lingga
Nirmala 120210402037
Mega Windayana 120210402020
Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Jember
2013
1.
Pendahuluan
Kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu
aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra pada awal
dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpreatasi dan
dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra, terutama dalam prosesnya pasti melibatkan peranan konsep heuristik dan hermeneutik. Oleh karena itu, heuristik dan hermeneutik menjadi hal yang tidak mungkin diabaikan. Atas dasar
itulah heuristik dan hermeneutik perlu diperbincangkan
secara komprehensif guna memperoleh pemahaman yang memadai.
Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa
interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya
menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu "menembus kedalaman
makna" yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir)
mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam.
Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf
interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman
interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman
yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus
dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra
dalam memahami karya sastra, metode pemahaman heuristik dan hermeneutik dapat dipandang sebagai metode yang paling
memadai.
2.
Pembahasan
2.1 Pengertian Heuristik dan Hermeneutik
2.1.1
Heuristik
Heuristik merupakan langkah untuk menemukan makna melalui pengkajian
struktur bahasa dengan mengintrepetasikan teks sastra secara referensial lewat
tanda-tanda linguistik. Langkah ini berasumsi bahwa bahasa bersifat referensial,
artinya bahasa harus dihubungkan dengan hal-hal nyata.
Menurut Riffaterre (dalam Wellek dan Warren, 1989: 148) analisis secara
heuristik adalah analisis pemberian makna berdasarkan struktur bahasa
secara konvensional, artinya bahasa dianalisis dalam pengertian yang
sesungguhnya dari maksud bahasa. Kerja heuristik menghasilkan pemahaman makna
secara harfiah, makna tersurat, actual meaning (Nurgiyantoro, 2007: 33).
2.1.2
Hermeneutik
Palmer (2003: 14-16) menyebutkan bahwa akar kata hermeneutik berasal dari
istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, yang berarti “menafsirkan”, dan
kata benda hermeneia, “interpretasi”.
Terdapat tiga bentuk makna hermeneutik
apabila mengambil bentuk verb dari hermeneuein, yaitu: (1) mengungkapkan
kata-kata, misalnya “to say”; (2) menjelaskan, seperti
menjelaskan sebuah situasi; (3) menerjemahkan, seperti di dalam
transliterasi bahasa asing. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dengan bentuk kata
kerja bahasa Inggris “to interpret”. Dengan demikian interpretasi dapat
mengacu kepada tiga persoalan yang berbeda: pengucapan lisan, penjelasan yang
masuk akal, dan transliterasi dari bahasa lain. Sastra merepresentasikan
sesuatu yang harus “dipahami”.
Hermeneutik merupakan pembacaan
bolak-balik melalui teks dari awal hingga akhir. Tahap pembacaan ini merupakan
interpretasi tahap kedua yang bersifat retroaktif yang melibatkan banyak kode
di luar bahasa dan menggabungkannya secara integratif sampai pembaca dapat
membongkar secara struktural guna mengungkapkan makna (singificance)
dalam sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan teks sebagai sistem
tanda.
2.2 Penerapan Heuristik dan Hermeneutik
2.2.1
Heuristik
Dalam menerapkan Heuristik tidak menghiraukan kelengkapan atau kesempurnaan
teks atau kondisi gramatikal. Sehingga apresiator dapat menambah ataupun
mengurangi bentuk gramatikal yang ada guna menemukan makna yang terkandung
dalam teks karya sastra itu sendiri.
2.2.2
Hermeneutik
Langkah-langkah penerapan Hermeneutik
adalah dengan mengkaji makna melalui pembacaan yang berulang-ulang dengan
meramalkan makna yang terkandung secara tersirat pada karya sastra itu sendiri
dengan menggunakan segenap pengetahuan yang dimiliki.
2.3 Contoh
Penerapan Heuristik
dan Hermeneutik
2.3.1
Heuristik
Ia menggeliat,
merayap ke luar kegelapan. Ia menggeliat merayap ke luar dari tiga kitab, saat
kalam pertama dibentangkan.
Penerapan heuristik
terdapat pada kata menggeliat, kata menggeliat biasanya dipergunakan untuk menyebutkan kegiatan manusia
setelah bangun tidur.
Kok rasanya aku
ini masih kurang cukup nrimo. Ya inilah tekanan batin yang tak
mampu aku keluhkan pada siapa pun kecuali pada diriku sendiri dan Tuhanku .
Analisis heuristik pada kata nrimo merupakan kata sifat yang berasal
dari bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia mempunyai arti menerima keadaan apa
adanya.
2.3.2
Hermeneutik
Ia menggeliat,
merayap ke luar kegelapan. Ia menggeliat merayap ke luar dari tiga kitab, saat
kalam pertama dibentangkan.
Penerapan hermeneutik terdapat pada kata menggeliat,
pembacaan untuk memaknai bukan secara linguistik. Langkah hermenutik dilakukan untuk
memaknai kata menggeliat yang dipergunakan untuk kegiatan selain
manusia, yaitu ular.
Kok rasanya aku
ini masih kurang cukup nrimo. Ya inilah tekanan batin yang tak
mampu aku keluhkan pada siapa pun kecuali pada diriku sendiri dan Tuhanku .
Analisis hermeneutik pada kata nrimo dianalisis
secara hermeneutik dengan cara pemberian makna berdasarkan tinjauan aspek yang
dikaji, yaitu kata nrimo dihubungan dengan sikap hidup manusia terhadap
Allah dalam menerima kenyataan hidup. Manusia yang percaya kepada Allah harus
dapat menerima kenyataan bahwa kenyataan hidup susah atau sedih yang ditemui
dalam kenyataan merupakan cobaan dari Allah.
3.
Kesimpulan
Dalam memahami suatu karya sastra, kita bisa
menggunakan metode
pemahaman heuristik dan hermeneutik. Metode
pemahaman heuristik merupakan langkah untuk menemukan makna melalui pengkajian
struktur bahasa dengan mengintrepetasikan teks sastra secara referensial lewat
tanda-tanda linguistik, sehingga menghasilkan pemahaman makna secara harfiah.
Sedangkan metode pemahaman hermeneutik merupakan interpretasi tahap kedua yang bersifat
retroaktif yang melibatkan banyak kode di luar bahasa dan menggabungkannya
secara integratif sampai pembaca dapat membongkar secara struktural guna
mengungkapkan makna (singificance) dalam sistem tertinggi, yakni makna
keseluruhan teks sebagai sistem tanda. Sehingga pembaca dapat memhami
karya sastra secara menyeluruh dan mendalam.
DAFTAR PUSTAKA
http://bahasakarakterbangsa.blogspot.com/2012/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://jacoeb73.blogspot.com/2011/04/analisis-fiksi.html
http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/hermen.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar