Dari Mata Balon
Karya : Mega Windayana
Marsya
Aditya Pratama, nama cantik itu diberikan kakekku sewaktu masih kecil dulu.
Sejak kecil hingga belia ini aku tak suka menggunakan banyak aksen pada wajah.
Seperti hari ini, meski rinai hujan begitu lembut, seharusnya anak sepantaranku
senang berdandan dan berlama- lama di depan kaca. Tapi aku tidak. Lebih suka
duduk di beranda rumah. Terlihat di ujung jalan dekat rumah terlihat dua orang
anak yang sedang berjalan menuju rumahnya. Sepertinya mereka kebingungan kalau-
kalau hujan lebat datang, dan mereka kembali untuk mengambil payung.
Tak
ada satu tanaman yang tak basah oleh air. Bunga yang tadi layu, serempak
tersipu malu dan merekah. Angin berhembus pelan seakan membungkus cerita untuk
meraih pagi yang cerah. Tak lama, hujan berhenti. Sejam setelah itu suara
gemuruh yang terasa mencekik menggelegar terdengar begitu sontak. Disertai
angin kencang hujan turun berlomba- lomba. Nampak seorang kakek tua mengayuh
becaknya dengan sangat kencang karena takut terjebak hujan. Tiba- tiba ada
seorang anak kecil lari di depan rumah dan ditangannya membawa balon ungu.
Sontak aku berlari ke dalam rumah. Dan kabur ke dalam kamar dan menguncinya
rapat- rapat.
Entah apa yang membuatku begitu ketakutan
saat melihat balon. Padahal setiap acara bahagia, simbol ceria dan suka cita
itu identik dengan nuansa dan balon dimana- mana. Rasanya ada yang aneh saat
melihat benda mati itu. Apalagi jika benda itu terbang. Rasanya hati ini
terharu, gemetar, dan pikiranku menyibak pada hal- hal yang tak pasti. Seperti
memasuki ruang kosong, yang gelap, hitam, jauh dan akhirnya aku terjepit di
dalamnya.
Melati
adikku yang baru duduk kelas dua SD malah terlihat sibuk menyisir rambutnya
yang masih basah di dekat jendela kamar. Walau jarak umur kita jauh terkadang aku
merasa geram saat dia mengejekku apalagi menyodorkan balon. Maklum di rumah
hanya berdua dengan Melati, ayah dan ibunya sama- sama sibuk mengurus usaha di
Toko. Sudah dua tahun ini, toko ayah berkembang pesat dan membuat kesibukan
yang menjadikan urusan keluarga menjadi nomer sekian. Tak hanya itu ayahnya
memiliki beberapa rumah makan, sementara ibunya membuka usaha kue tradisional.
Pernah sesekali mereka bercanda saat aku ualng
tahun, Aku bingung,
bagaimana Melati keluar bersama teman- temannya saat perayaan ulang tahun yang
digelar ayah dirumah. Tak lama, setelah pemotongan kue. Tiba- tiba dari dalam
rumah ada segerombolan anak kecil membawa balon, dan itu adikku. Seperti petir yang menyambar. Aku lari
termenung duduk. Dan semua orang menatapku. Semakin lama aku termenung. Dan tak
terasa airmataku begitu deras mengurai kecemasan dan kegelisahan. Suasana
menjadi haru dan ayah memarahi Melati akibat ulahnya.
Setelah
kejadian itu, selama seminggu aku mengurung diri. Merasa malu sekali, dan
Melati tak berani menatapku sedikitpun. Tapi melihat dan mendengar pengakuan
ayah, bahwa Melati hanya ingin memberikan kejutan dan menghilangkan phobiaku
terhadap balon. Tapi yang terjadi justru di luar pikiranku. Semenjak itu, seua yang
berbau balon dicoba disingkirkan oleh ayah dan ibu.
Yang jelas
jika melihat balon ada sedikit rasa kegundahan, ketakutan, dan kecemasan yang
mendalam bagiku.
Sekian........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar